Roller coaster

5 tahun terakhir ini rasanya hidupku berjalan seperti roller coaster, sangat cepat dan tak terduga.  Akhir SD entah kenapa saya merasakan ketakutan yang mendalam, bahkan sampai menggigil karena saking takutnya. Dan akhirnya mama-papa berniat membawa saya ke psikiater, namun mereka memutuskan untuk membawa saya  ke dokter dulu. Sejak saat itu saya harus memakan obat penenang. Entahlah saya pikir saya nyaris gila dengan ketakutan saya saat itu.  Awal masuk SMP saya pikir tak ada yang salah dengan kondisi badan saya, namun tiba-tiba papa memeriksakan saya ke dokter alternatif dan saya divonis tidak bisa lari,loncat,dan kegiatan lain yang berat. SHOCK itu yang saya rasakan saat itu. Entah apa lagi yang terjadi pada hidup saya. Saya tidak bisa mengikuti Olah raga saat masuk smp. Harapan SMP itu indah sirna sudah.  Melihat orang lain bebas bermain sesuka hati saat pelajaran Olah Raga itu suatu hal yang membuat Saya SANGAT IRI dan berharap bisa sembuh secepat mungkin dan kembali bermain seperti mereka. Walaupun terkadang saya tak mengerti dengan sikap iri mereka terhadap saya karena mendapatkan nilai walau tidak mengikuti test fisik yang mereka jalani setiap semester. Padahal nilai saya juga hanya sebatas KKM, dan saya pun tidak mendapatkannya secara cuma-cuma, tapi dengan serentetan tugas yang diberikan. Terkadang saya berfikir, mengaoa tak coba saja tukar posisi dengan saya kalau mereka iri? Sejak saat itu pelajaran OR menjadi TEKANAN BATIN bagi saya. saya bahkan LUPA bagaimana caranya untuk berlari, bagaimana caranya untuk loncat dan permainan lain. Merasakan sensasinya berlari yang hanya bisa saya ingat sewaktu SD dulu atau sekitar 5 tahun yang lalu. Bukan hanya itu saja yang membuat saya tidak percaya akan hidup saya sekarang. Dokter alternatif-yang kini menjadi guru spiritual saya- memberitahu bahwa saya ini seorang anak indigo. Dan ini juga berita yang membuat saya entah harus merasakan perasaan apa.  Saya dulu memang sempat berfikir andai saja saya anak indigo mungkin senang bisa mengetahui sesuatu hal yang belum diketahui orang lain, tapi itu tak mungkin pikir saya saat Itu. Namun sekarang? Ternyata saya seorang indigo juga. Dan ketakutan itu juga berasal dari indigo saya yang tak terarah yang bisa menyebabkan saya GILA. Entahlah rasanya hidup saya ini hanya sekedar MIMPI karena semuanya berjalan sangat cepat dan tak terduga. Seiring dengan pengobatan, indigoku mulai terarah dan aku mulai bisa melihat kejadian kejadian itu dan makhluk yang tak terlihat. Satu yang ada di pikiranku saat itu, ternyata menjadi anak indigo itu tak selalu menyenangkan. Saya harus menghadapi ketakutan atas  peristiwa peristiwa buruk yang akan terjadi, saya harus menghadapi makhluk makhluk aneh yang menampakan diri, saya harus rela tidak bisa tidur pada saat tengah malam dan itu suatu TEKANAN bagi anak seusia 13 tahun sepertiku waktu itu. Namun sekarang, semua itu mulai terbiasa di hidup saya, walaupun Ketakutan-ketakutan itu masih ada dalam diri saya. Dan sekarang saya HARUS mulai terbiasa dengan semua ini, bahkan hal-hal yang tak terduga lainnya.

Broken glass


Saya tak tau persis apa yang saya rasakan saat ini. Pada orang-orang yang pernah menjadi orang terdekat saya. Ada rasa kecewa, sedih, bingung dan sisanya nyaris tak bisa merasakan apapun. Saya tak ingin bersikap seperti ini namun, hati, pikiran dan tindakan saya tak sejalan. 
Taukah? 
Ketika gelas kepercayaan dan harapan itu saya berikan, karena saya yakin dia bisa menjaganya. Namun, takdir berkata lain. Dia memecahkan gelasnya, menjadi kepingan-kepingan kecil. Dan ketika gelas itu pecah, taukah rasanya? Saya rasa kamu sama sekali tak akan perduli. 
Seiring berjalan waktu, sikapnya, membuatku menyusun kembali kepingan-kepingan itu, walaupun saya tau sikap saya tak akan sama lagi seperti dulu. Retakan-retakan itu akan tetap terbentuk walaupun menggunakan pelekat yang bagus sekalipun. Tak akan sama. Tapi, setidaknya, kita masih bisa berhubungan cukup baik.
Ketika saya sudah hampir melekatkan satu sisa kepingan. Dia membuatnya pecah lagi. Kali ini bukan berkeping-keping seperti kemarin, namun nyaris hampir tak bisa dibentuk. Dan saya bingung harus menyusunnya lagi atau tidak. Saya berada di persimpangan sekarang.

The Opposite



Terkadang sesuatu yang bersebrangan dengan keinginan kita itu akan membuat kita jengkel. Kita ingin dunia yang "perfect" sesuai dengan keinginan kita. Tapi pernahkah menyadari bahwa Allah sudah ciptakan bumi da kehidupan ini dengan sangat "perfect" dan adil. Ia menciptakan sesuatu yang berlawanan itu untuk mencapai suatu keserasian.

Terkadang kita harus merasakan keterpurukan untuk mengetahui bagaimana caranya bangkit dan bertahan hidup.

Terkadang kita harus merasakan kehilangan untuk mengetahui betapa berharganya sesuatu yang dimiliki kita itu.

Terkadang kita harus memiliki musuh untuk mengetahui siapa teman kita yang sebenarnya.

Terkadang kita harus merasakan panasnya terik matahari saat kemarau panjang untuk bersykur ketika hujan turun.

Terkadang kita harus merasakan perpisahan untuk menghargai sebuah kebersamaan.

Terkadang kita harus merasakan kesedihan untuk menghargai setiap kebahagian yang kita dapatkan.

Terkadang kita harus merasa "tidak tau" untuk bereksplorasi.

Terkadang kita harus merasakan kekalahan untuk mencapai kemenangan yang sejati.


Bahkan dalam keseharian pun, kita harus merasakan gelapnya malam untuk bisa merasakan indahnya ketika terbit fajar.


Hujan

Aku menyukai hujan.... Kenapa? 
Karena setiap tetes-tetes air itu jatuh ke bumi, mereka membawa tetes-tetes kehidupan untuk makhluk yang ada di bumi. Tetes-tetes air itu akan membasahi tanah yang mulai kering, menghijaukan daun yang mulai menguning, dan aku melihat bagaimana kuasa Allah menurunkan setetes demi setetes air yang kemudian menjadi sumber kehidupan. Aku mempelajari bagaimana mereka merubah kehidupan, bagaimana mereka merubah kerasnya batu hanya dengan tetesan-tetesan mereka. Bagaimana mereka mulai mengairi sungai yang sedang haus akan airnya. 

Karena ketika hujan, aku dapat menyembunyikan air mataku. Tetesan-tetesan air yang menyentuh wajahku, akan menyamarkan air mata yang aku teteskan, dan aku bisa menyembunyikan suara tangisku di baliknya suaranya. Aku bisa menyimpan rinduku pada hujan, membiarkan ia mengalir bersama tetes-tetes air itu yang akan menghilangkannya ketika sampai tanah. 

Karena ketika hujan, aku bisa mengingatnya, mengingat semua kejadian yang pernah terjadi bersamanya....


Dandelion's phyllosophy




Malaikat Hidupku

Hidup, anugerah terindah yang diberikan Allah untuk makhluknya. Walaupun tidak selamanya juga hidup itu menyenangkan dan indah. Kita pun harus siap dengan segala bentuk ujian yang memang telah dipersiapkan oleh Yang Maha Kuasa ketika kita masih didalam kandungan Ibu. Maktub!
Ketika kita masih kecil, ujian hidup tidak begitu berat. Tetapi beranjak remaja pengenalan hidup yang "sebenarnya" dimulai. Ujian demi ujian yang datang silih berganti. Bahkan yang tidak disangka sebelumnya, dan terkesan mendadak. Tapi itulah ujian, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Seperti hidup saya, ketika mash kanak-kanak, saya belum mengerti tentang "masalah". Namun sekarang, rasanya masalah yang datang silih berganti, rasanya tak ada habisnya. Terkadang saya berfikir sanggupkah saya menjalani ujian-Nya? Allah memang tak akan memberikan cobaan melampaui batas kemampuan makhluknya. Namun, saya pun manusia biasa yang tidak selalu kokoh ketika diterpa angin kencang. Tidak selalu berdiri tegak ketika suatu hal menggoyahkan hidup saya. Terkadang saya berfikir apakah hidup ini adil terhadap saya? Tapi suatu hal yang saya yakini bahwa Allah mempunyai rencana lain di balik semua ini.
Dan saya sangat beruntung diberi dua malaikat yang selalu menjaga saya, menyayangi saya dan selalu ada ketika saya hampir ambruk diterpa badai masalah. Ya, saya beruntung memiliki seorang ibu yang selalu membantu saya berdiri ketika jatuh, dan tak mampu untuk berdiri tegak, dan mendekap saya ketika saya ketakutan dan kedinginan. Saya beruntung memiliki seorang ayah yang selalu menasehati saya untuk selalu berdiri kokoh ketika apapun menerpa saya. Dia yang selalu menopang saya ketika saya sudah tak bisa berdiri tegak.
Saya sangat menyayangi kedua malaikat itu..

Dandeilon.~~ inspiring my life~~

     Dandelion tidak tumbuh sebagai bunga yang hidup di taman-taman hias, seperti bunga lain. tetapi bersembunyi di balik ilalang yang sering tidak diperdulikan oleh orang lain. Dandelion tidak secantik mawar ketika mekar, tidak secerah bunga matahari yang bersinar. Tetapi dandelion berwarna putih, memberi kesan pada dirinya yang nampak anggun dan tenang dari luar. Dandelion tumbuh dengan sendirinya, tak butuh tangan siapapun untuk memupuki, tak butuh air dari tempayan mana untuk menyiramnya. Dia bahkan menerimanya langsung dari langit.     
     Dandelion tumbuh tegak diantara ilalang yang mulai menguning. Namun dia tidak akan mampu melawan angin yang terus berhembus menerbangkan kelopaknya dan merubahnya menjadi suatu batang yang tegak. Dandelion bergerak setia mengikuti arah angin. Dandelion itu bebas,tak satupun tahu keberadaan dirinya, tak satupun tahu, kemana arah serabut kelopaknya yang halus itu terbang,,,terbang jauh ke sana. saat sang angin meniupnya pergi, itu bukan akhir dari segalanya, tapi awal hidupnya yang baru karena berkas-berkas dandelion rapuh yang sebenarnya perkasa itu ditiup angin untuk menciptakan kehidupan baru, sang berkas dandelion itupun tak lagi menoleh ke belakang, tapi berjuang untuk hidup barunya. Ia, menghargai penghargaan sang Penciptanya, dengan senantiasa bersedia di tiup angin, dan tetap liar di tepi jalan...   
     Suatu saat dandelion itu akan menemukan tempatnya dan ia akan tumbuh kembali sebagai bunga yang cantik meskipun setiap kali angin akan menggugurkannya dan ilalang menyembunyikannya dalam senja.    
     Saya ingin hidup seperti dandelion, menghargai setiap waktu yang singkat dengan mengikuti arah angin yang akan membawa saya kemana pun tanpa satu orang pun yang tau dimana saya akan meletakkan raga ini. Sampai suatu saat saya akan mencapai suatu titik keterpurukan dalam diri. Hingga saya menunggu sesuatu yang dapat menopang saya untuk berdiri tegak seperti batang dandelion, sampai angin yang akan membawa saya pergi entah kemana. Senja yang padam oleh malam menghilangkan dandelion pada sebuah kegelapan  yang meninggalkannya dan mengajarkan bagaimana menerangi dirinya dengan cahaya bulan dan mempertahankan dirinya untuk tidak tertiup angin pada saat malam. 
    Saya bisa menghargai hidup setiap hari setiap malam, saat ini yang bisa menolong hanyalah kebahagiaan dan berada di sekelililng orang bisa membuat saya nyaman dan senang. Meskipun entah apa yang sebenarnya saya rasakan, seperti tidak ada rasa apapun yang bisa membantu mengeluarkan saya dalam kondisi seperti ini. Saya  mencapai titik lelah dan entah apa yang akan saya lakukan untuk bisa menghilangkan lelah sampai pundak ini terasa berat, dan mata ini terasa tak melihat apa yang ada.