Maaf

Maaf, maaf karena telah lancang mencoba memasuki kehidupanmu.
Maaf, maaf karena telah menggantungkan harapan padamu.
Maaf, maaf karena selama 5 tahun ini sudah banyak membicarakanmu.
Maaf, maaf karena mungkin telah mengganggu waktumu beberapa waktu lalu.
Dan, maaf untuk ketidak tau-dirianku.
Sejak hari ini, aku tak akan membicarakanmu lagi, tak akan menggantungkan harapanku lagi, tak akan mengganggumu lagi.

Dan...terimakasih telah meluangkan waktu beberapa waktu lalu, walau mungkin kamu sendiri tak ingin.

260214

Surat untuk calon imam kelak

Nemu ini di salah satu blog, tapi lupa lagi nama blognya apa. Seenggaknya ini jadi ketenangan tersendiri saat mulai bimbang.



...بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم 

Untukmu Bakal 'Imam'ku yang tiada siapapun
mengenali termasuklah diri ini, dirimu masih rahasia penciptamu..rahasia yang telah ditentukan untukku, yang perlu kusingkap dengan segunung taubat dan sepenuh sungguhan sujudku, cuma jambatan istikharah jua yang bisa merangkai rahasiaku ini....

Ketahuilah wahai mujahidku, Ketahui namamu tidak menjadi idamanku, apalagi untuk menatap wajahmu, menggeletar diri ini apabila terfikirkan azab Allah, justru diri ini amat bersyukur karena masih tidak ditakdirkan sembarang pertemuan antara kita, ku bimbang andai terjadi pertemuan itu sebelum lafaz akad darimu, sungguh kita menempuh siksaan Allah. Ya Tuhan kami lindungi kami...

Biar bertahun lama, yang ku tunggu bukan dirimu tetapi yang ku tunggu adalah lafaz akad yang akan membimbing diri ini ke Jannah Allah. Apalah artinya perasaan kasih yang bersemi untukmu suamiku andai maharnya bukan kemampuanmu untuk mendidikku menjadi mujahidah yang mencintai DIA lebih dari segala...

Tiada yang lebih bahagia suamiku, melainkan didikanmu yang akan membuat diri ini mencintai perjuangan menegakkan Dien ini, berikan ku sepenuh kekuatanmu dalam mendidik iman ku agar syahid ku damba, berikanku segala kasihmu jua agar sujudku kan tegar padaNya dalam memohon dikurniakan pada kita mujahid-mujahid yang akan menyambung perjuangan abah mereka.

Berikanku sepenuhnya sebagian hati yang kau sediakan untuk diriku, agar sebagian hati mu itu akan menjadi inspirasi padaku untuk menghantar satu per satu mujahid kita ke medan jihad. Mungkin kau heran suamiku, mengapa diri ini hanya maukan sebagian hatimu dan bukan sepenuhnya. Suamiku, hatimu itu milik Rabbul jalil, dan kumohon sebagian itu sebagai semangatku wahai suamiku. Dari awal lagi sudah kudidik hati ini, bahwa dirimu, suamiku, bukan milikku dan juga mujahid-mujahidku itu bukan milikku... kalian milik Allah, dan diriku hanya medan yang diciptakanNya untuk menyambung generasi jihad dari rahim ini.

Wahai suamiku, seadanya diri ini sekarang, hanyalah dalam mujahadah mentarbiyyah jiwa agar diriku bisa menjadi sayapmu mengenggam syahid. Tersangatlah bimbang diri ini andai ku gagal mendidik hati, karna yang kuimpi seorang pejuang untuk menyambung jihad yang terbentang dengan melahirkan para mujahid...

Wahai suamiku, walau dimana jua dirimu dan siapa jua dirimu yang pasti bersama kita mendidik hati mencintai SYAHID demi ridhaNya, sebagai hamba yang menikmati kurniaan yang tidak terkira dari Rafi'ul A'la, bersamalah kita bersyukur, bersyukur dengan mencintai DIA lebih dari segala isi dunia dan dunia ini...karna hilang arti pada sebuah kehidupan andai cinta dari Allah tidak kita balas, andai cinta sementara bisa melukakan hati sepatutnya hati-hati kita robek sudah karna gagal membalas segunung cinta dari DIA Maha Esa...

Semoga semuanya terjawab dalam sujud yang kita labuhkan demi ridhaNya... biarlah seribu malam berlalu tapi pastikan ianya berlalu dengan alunan sendu dalam sujud kita diatas lembaran tahajjud...

Quote Islam
 

Aku & Saya

Aku mengaguminya, meski aku tak tahu kapan persisnya rasa ini hadir dan kemudian terus berkembang. Segenap perhatian kecil yang dia berikan mampu membuat pintu hatiku terbuka untuknya. Pepatah bahwa 'cinta hadir karena terbiasa' yang dulu tak kupercaya itu malah terjadi padaku, dan kini aku mengerti arti pepatah itu. Namun aku sadar, aku tak lebih hanya sekedar orang terdekat saja baginya. Terlebih ada seseorang yang telah terlebih dahulu aku kagumi sebelumnya.

~~~~~~~~~~~~

Saya mulai menyukainya sejak hari-hari saya mulai terisi olehnya. Segenap perhatian kecil yang diberikan olehnya membuat saya merasa bahagia. Ada rasa nyaman ketika berada di sisinya, yang membuat saya tak ragu untuk menceritakan segala hal kepadanya. Walau saya tahu rasa ini salah, karena saya telah memiliki seorang gadis yang telah terlebih dahulu mengisi kekosongan hati. Dan saya tahu, dia juga telah memiliki seseorang yang dia sayang.

~~~~~~~~~~

Hari-hari terus berlalu, aku sering menceritakan dia~pria yang aku kagumi padanya. Walaupun aku tahu, kini hati itu telah penuh olehnya, orang yang sering aku curhati tentang dia. Ini, untuk menutupi rasa untuknya. Rasa yang terus berkembang. Dia pun sering menceritakan pacarnya padaku, walau ada sidikit rasa cemburu, namun aku berpura-pura bersikap biasa di depannya.

~~~~~~~~~

Saya sering bercerita tentang pacar saya padanya. Dia pun tak keberatan untuk memberikan solusi tentang masalah saya dengan pacar saya. Saya, merasa sangat nyaman bercerita padanya. Dia pun sering menceritakan orang yang dia sayangi pada saya. Walau terkadang saya merasa cemburu. Namun saya tahu, saya harus menyembunyikan rasa ini, agar hubungan persahabatan ini tetap terjalin.

~~~~~~~~~

Sikapnya mulai berubah akhir-akhir ini. Aku tak tahu apa penyebabnya. Mungkin dia sudah menemukan sosok teman curhat yang lebih baik dibandingkan aku. Aku merasa sedih dan kecewa, walau seharusnya aku tidak merasakan ini. Aku harus menerimanya, jika ini yang dia inginkan, aku pun akan menjauh darinya. Walau mungkin berat, karena kehilangan merupakan proses yang menyakitkan.

~~~~~~~~~

Saya tak ingin rasa ini terus berkembang untuknya. Karena saya tahu, dia sangat menyayangi orang itu. Saya berusaha menjauh, walau ini menyakitkan. Menjadikan orang lain sebagai teman curhat sungguh tak senyaman ketika saya bercerita kepada dia. Dia pun sepertinya tak ada masalah ketika saya menjauh, dia bahkan sudah mempunyai teman dekat lain. Syukurlah, semoga dia baik-baik saja.

~~~~~~~

Aku khawatir ketika melihatnya sakit lagi. Hatiku tak tenang. Karena pada dasarnya hatiku selalu tak tenang ketika terjadi suatu hal yang buruk padanya. Aku tak mengerti mengapa. Namun aku tak bisa memberikan perhatian padanya, perhatianku mungkin bukan yang dia harapkan. Lagipula sudah banyak orang disekelilingnya yang memperhatikan dia. Biarlah kutitipkan doa untuknya saja pada Tuhan.

~~~~~~~

Penyakit saya kambuh lagi. Tak ada perhatian seperti biasanya dari dia. Dia terlihat acuh dan tak perduli. Kelihatannya dia sudah sepenuhnya melupakan saya. Jelaslah, bahwa saya orang yang tidak berarti untuknya.

~~~~~~~

Dia sudah memiliki gadis yang dia sukai lagi semenjak putus dari pacarnya. Aku mengetahui kabar ini dari temanku. Pantaslah, gadis itu merupakan gadis yang lugu, islami dan pintar. Aku senang dia menemukan gadis yang tepat. Aku juga yakin bahwa gadis itu bisa menjaga dia dengan baik.Syukurlah.

~~~~~~~

Saya tahu bahwa dia sangat setia menunggu pria itu. Pria yang sangat dia sayangi. Pantaslah sudah bertahun-tahun dia menunggu pria itu. Saya tahu, saya orang yang tak pantas untuk dia. Kini, saya berusaha untuk menyukai gadis lain, untuk menghapus rasa ini untuknya.

~~~~~~

Mataku bertemu dengannya. Entah mengapa, yang pasti saat melihat matanya ada ketenangan tersendiri yang aku rasa. Aku juga merasa bahwa ada sesuatu yang ingin dia sampaikan lewat matanya padaku. Namun, ah...ini pasti hanya perasaanku saja.

~~~~~~

Mata saya dan mata dia bertemu saat kita berpapasan di lorong. Menatap matanya ada suatu perasaan lain. Perasaan nyaman dan tenang. Saya ingin mengungkapkan rasa ini ketika menatap matanya, ada dorongan kuat dari hati untuk mengungkapkan rasa ini. Untunglah saya dapat menahannya. Dari matanya, saya sepertinya bisa merasakan bahwa ada hal yang dia ingin ungkapkan pada saya, ini pasti hanya perasaan saya saja.

~~~~~~

Malam ini sepi dan dingin. Hanya bulan purnama yang menerangi alam ini, bintang pun tak nampak. Handphone yang sedari tadi disampingku tak kunjung menampakan namanya pada layar handphoneku. Ya...aku tau, aku menunggu sesuatu yang mustahil. Dia tak mungkin menghubungiku. Kita tak mungkin seperti dulu. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk berhenti memikirkannya, berhenti memikirkan perasaan itu. Waktu yang tepat untuk......melupakannya. Dan menulis semua yang pernah terjadi dengannya dalam buku sejarah hidup yang terkunci rapat-rapat.

~~~~~~~~~

Malam ini saya menatap bulan di atap rumah. Dulu, saya sering mengirim pesan padanya untuk melihat keluar, melihat indahnya bulan purnama bersama-sama, walau tak satu wilayah. Namun saya yakin pesan saya padanya tersampaikan. Kini, tak ada keberanian dalam diri saya untuk mengirim pesan singkat seperti itu lagi. Toh, dia mungkin tak akan perduli dengan pesan yang saya kirim. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk melupakannya, melupakan semua rasa aneh ini, mengunci semua kenangan dalam 'sejarah', dan menguburnya dalam-dalam.

~~~~~~~~

Di langit, bulan purnama menatap sedih dua insan itu. Hati yang seharusnya bersatu padu, karena rasa yang sama, harus tercerai berai, pupus karena gengsi dari masing-masing, karena mengingkari apa yang mereka rasakan. Jika saja bulan dapat menjadi perantara untuk mengungkapkan rasa dari kedua insan itu, pastilah sudah ia lakukan sedari tadi. Sebelum akhirnya kedua insan itu saling melupakan, membawa asanya jauh-jauh dan menguburnya dalam-dalam.

Takdirku

Tak ada yang manusia yang bisa memilih ingin dilahirkan dalam kondisi seperti apa, baik atau buruk, sempurna atau tidak. Tak ada manusia yang bisa memilih takdirnya. Semua itu sudah ditetapkan oleh sang pencipta dengan skenario yang begitu indahnya, kita hanya belum mengetahuinya.

Begitupun aku, aku tak bisa memilih dilahirkan seperti apa dalam keluarga yang bagaimana, aku juga tak bisa memilih takdirku menjadi apa. Aku memang terlahir normal, tak terlihat kecacatan dalam fisikku pada mulanya. Namun, seiring berjalannya waktu, semuanya semakin terlihat jelas. Aku tak seperti manusia normal pada umumnya. Tendon lututku lemah, aku tak dapat menjalankan aktifitas dengan maksimal. Ini semacam tamparan keras di pipiku. Masa remaja yang aku impi-impikan berjalan dengan normal harus pupus. Aku bahkan tidak bisa mengikuti pelajaran olang raga sejak SMP hingga saat ini. Kadang, aku berfikir 'mengapa aku yang mengalami ini semua?'. Aku menyesali kondisi diriku saat itu, aku marah pada keadaanku.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan seseorang yang sebaya denganku. Dia bahkan tidak bisa berjalan dengan normal, sebelah kakinya harus disered agar ia mampu berjalan. Aku bisa merasakan berjalan seperti itu tidaklah mudah. Aku pandang diriku sendiri, membandingkan dengan keadaan dia. Sungguh aku merasa malu pernah berpikiran bahwa Allah tidak adil. Aku sungguh malu dan memaki diriku karena pernah menyesali kondisiku. Aku merasa sangat bersyukur karena aku masih diberi kesempatan untuk berjalan dengan normal, walaupun tak bisa berlari.

Dan saat ini, saat cita-cita dan mimpiku harus terhenti karena kondisiku yang tidak memungkinkan. Ada rasa kecewa di dalam hatiku, namun aku yakin ini semua yang terbaik untuku. Aku sangat sangat yakin dan percaya bahwa rencana-Nya lah yang terbaik.

Still you

Pikiran dan perasaanku masih tertinggal di masa lalu. Aku sungguh tak bisa mengelurakan diriku dari belenggu masa lalu. Selalu saja peristiwa-peristiwa itu bermain bebas di memori otakku. Aku tak dapat melupakanmu, karena kamu selalu menjadi aktor utama dalam pemutaran film secara bebas di memori otakku. Aku, selalu teringat akan semuanya, semua cerita tentang kau dan aku.

Ingatkah kamu ketika kau dan aku bersama di bawah rinai hujan. Berbagi cerita, tertawa bersama. Saat itu aku ingin agar waktu berjalan dengan lambat atau bahkan terhenti. Aku tak ingin moment itu berakhir. Karena saat itu aku bisa dengan mudah menatapmu, melihatmu tersenyum bahagia, melihat setiap detail dirimu. Saat itu aku bisa merasakan kehangatan darimu, aku bisa merasakan kebahagiaan, aku bisa merasakan kenyamanan berada di sisimu. Dan saat itu, aku mulai menyadari bahwa aku menyukaimu...

Namun aku sadar akan kesalahanku, ya, menyukaimu adalah sebuah kesalahan besar, karena aku tau kita tak mungkin satu. Saat itu aku berusaha untuk membohongi hatiku, membohongi perasaanku dengan pikiranku. Berharap suatu saat pikiran dan hatiku sejalan. Namun apa? Usahaku ternyata nihil. Perasaanku terhadapmu semakin menjadi dengan perhatian-perhatian kecil yang kau berikan. Setiap pesan darimu, adalah sesuatu yang aku tunggu setiap hari. Kau selalu membuatku tersenyum dengan pesan yang kau kirim.

Aku berusaha menyembunyikan perasaanku tentangmu kepada siapapun. Hanya hatiku yang mengetahuinya. Aku menepis semua anggapan kedekatanmu dengan aku. Tahukah? Betapa tersiksanya aku ketika ucapan yang keluar dari mukutku berlawanan dengan apa yang ada di dalam hatiku.

Akhirnya tanpa ku sadari aku menciptakan jarak, membuat jurang pemisah yang dalam diantara kita, agar aku bisa melupakan semua asa dan angan tentangmu, pikirku saat itu. Namun apa? Aku semakin tersiksa dengan adanya jurang ini. Aku semakin tersiksa ketika melihatmu berbalik badan dan pergi meninggalkanku, menjauh dariku. Meninggalkan janji yang terucap dulu kemudian membuangnya ke dalam jurang. Dan aku hanya bisa menatapmu pergi menjauh, menyesali apa yang telah aku perbuat.

Ketika hari demi hari sejak saat itu, tak ada pesan darimu yang mampu membuatku tersenyum. Tak ada kehangatan yang biasa aku dapatkan darimu. Semuanya telah hilang. Dan aku, hanya bisa menyesalinya. Kucoba untuk memperbaiki semuanya, namun jurang itu terlalu dalam, jarak itu terlalu jauh untuk mengembalikan semua yang pernah terjadi. Sulit, untuk membuatmu berbalik kembali.

Rasa

Rasa ini bukan cuaca yang dapat diprediksikan, tak tau dengan siapa dan kapan rasa itu hadir. Rasa membelah secara biner, terus berkembang setiap harinya tanpa bisa dihentikan. Rasa berupa seni abstrak yang sulit dideskripsikan. Tulusnya rasa seperti daun-daun berguguran kala kemarau. Dan rasa bukan magnet yang pengaruhnya akan hilang ketika kutubnya dijauhkan. Ataupun seperti minuman soda yang jika dibiarkan terlalu lama soda itu akan menghilang. Rasa dan penantian ini seperti jagad raya,yang belum diketahui batasnya.

Dwitasari :): Untuk Kamu, yang tak benar-benar pergi.

Dwitasari :): Untuk Kamu, yang tak benar-benar pergi.: Untuk yang selalu mengira, saya tak lagi mencintainya....  Pertama kali melihatmu di taman yang disinari matahari terik itu, aku tak per...