untukmu, yang mungkin tak akan pernah membaca ini

Entah harus senang atau sedih mendengarnya, mendengar penjelasan itu, namun yang pasti ada perasaan kecewa mendengarnya.
Bukan, bukan karena aku menyimpan rasa yang lebih padamu, rasa itu masih tetap sama, seperti layaknya seorang adik terhadap kakaknya.
Kau, berubah menjadi sesuatu yang kau bilang tak akan menjadi seperti itu. Ada rasa kecewa, ternyata kau, tak sehebat yang aku pikirkan. Seluruh rasa kagumku padamu-seseorang-yang-menjadi-kakak-bagiku memudar sudah, hilang sudah tak berbekas. Semudah itukah kau menanggalkan prinsipmu? Sekuat itukah badai yang telah menerpamu? Hingga akarmu tak mampu lagi untuk menopang itu semua. Masih ingatkah kau pada kata kata yang telah kau ucapkan dahulu? Atau bahkan mungkin  kata kata itu sudah tak membekas sama sekali di hatimu? 
Sudahlah, sepertinya percuma saja aku berbicara panjang lebar padamu. Toh telingamu sudah tak ingin mendengar perkataanku, hatimu sudah tak menerima lagi apa yang aku ucapkan. Hatimu, sudah terlalu keras untuk itu.
Aku hanya anak kecil, begitukan anggapanmu?  Tentu kau lebih tahu segala hal dibandingkan aku, yang masih sangat kecil sekali pengetahuanku jika dibandingkan denganmu. Aku sadar betul akan hal itu. Ah, mungkin itu salah satu penyebab kau tak ingin mendengar perkataanku. 
Pernah ada seseorang yang bertanya padaku, Bolehkah aku kembali mempertanyakan itu padamu? Apakah amalmu sudah cukup banyak hingga kau melakukan apa yang sudah jelas Allah larang atau kau tidak melakukan kewajiban yang sudah jelas-jelas Allah pertintahkan? Sudah sangat yakin kah kau akan cukupnya amal untuk di hari akhir nanti?
Ah sudahlah, percuma saja, kau tak akan menjawab pertanyaan ini. Membacanya saja pun tidak akan. Atau, mungkin jika kau membaca tulisan ini, kau akan menggerutu,  bahkan membeciku pada saat ini juga. Atau kau akan berkata "ah, hanya tulisan seorang anak kecil yang tak tau apa apa".
Aku, merindukan sosok itu, sosok yang membuatku kagum akan keislamannya,  sosok yang dapat memotivasi untuk terus memperbaiki diri. Aku hanya merindukan sosok yang menginspirasi itu. Apakah dia akan kembali? Atau bahkan akan semakin menghilang? Apakah kau dapat menjawabnya?
Lagi-lagi pertanyaanku tidak penting bukan?Sudahlah...
Tak banyak doaku, Semoga kau ingat perkataanmu dahulu..

Jatinangor 20 februari 2015


dari adik yang menyayangimu..

0 komentar:

Poskan Komentar