Ketika pintu memori itu terbuka

Malam semakin larut, dan mataku masih enggan untuk terpejam. Hanya suara binatang malam dan gemercik air sisa-sisa hujan tadi sore yang terdengar. Dalam keheningan ini, hatiku menyuruh untuk berinstropeksi. Pikiranku melayang ke jauh-jauh hari sebelumnya. Bagaimana aku menjalani kehidupan ini, bagaimana aku berjalan seiring dengan skenario takdir yan telah ditetapkan. Dan aku merasakan berbagai macam kesalahan yan aku perbuat, dan saat itu pula rasa penyesalan muncul. Semacam penyesalan atas peristiwa yang aku sebabkan karena ulahku sendiri dan tak bisa terulang kembali untuk aku perbaiki.
Otaku membuka pintu memori tentang segala kepahitan hidup yang selama ini aku jalani. Ketika di beri ujian kepahitan itu, aku merasa hidup ini tak adil. Namun, sekarang, setelah semuanya berjalan seiring dengan bergantinya waktu, aku mulai mengerti tentang pemberian segala kepahitan dalam hidupku ini, dan sekarang aku merasa bersyukur. Setidaknya aku dapat merasakan manis setelah mencicipi bagaimana rasanya pahit.
Kini, saat pintu kepolosan masa kecilku terbuka, aku tersenyum mengingatnya. Bagaimana dulu aku sering mencuri dan menjaili tetangga neneku, dan membohongi semua orang yang ada di rumah dengan kelakuan baiku di depan mereka. Dan sekarang, ada rasa lucu dan merasa bersalah dalam diriku karena telah membohongi semuanya.
Pintu memori lain terbuka, ini tentang kebahagiaanku, kebahagiaan yang tak ternilai di masa lalu yang belum pernah lagi aku alami saat ini. Ketika aku sehat, ketika aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau, ketika bercanda tawa dengan kelompok penari dulu. Itu, sebuah kebahagiaan yang besar dan tak ternilai. Walaupun aku merasa getir jika membandingkannya dengan saat ini. Namun aku yakin, suatu saat nanti aku akan mengerti.

0 komentar:

Poskan Komentar