Terimakasih adik-adik kecilku.....


Dinginnya cuaca tak mereka indahkan, derasnya hujan tak mereka hiraukan. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara mereka bertahan hidup, bagaimana cara membantu kedua orang tua mereka. Mereka   terpaksa harus melupakan kondisi tubuh mereka yangmulai menggigil. Tak perduli berapa orang yang menatap mereka, mereka harus melenyapkan rasa malu untuk mempertahankan hidup. Merekalah para ojeg payung, yang menurutku sangat berjasa. Mereka rela memayungi orang-orang dan membiarkan tubuhnya kedinginan. Meskipun uang yang mereka dapat mungkin tidak seberapa. Yang miris, usia mereka baru 10 tahun, dan mereka harus bekerja sekeras itu. Mereka seharusnya bermain bukan? Mereka seharusnya belajar bukan? Mereka seharusnya bisa menikmati masa kana-kanak mereka dengan baik. Namun, kondisi ekonomi memaksa untuk menghapus keceriaan mereka.
Pernah melihat anak-anak pengganjal mobil di nagrek? Perjuangan mereka tak kalah hebatnya. Mereka rela menggantung di mobil untuk mengganjal mobil saat mobil berada di tanjakan. Usia mereka bahkan ada yang baru 7 tahun.  Mereka harus menaruhkan nyawa mereka demi sesuap nasi.
Saat itu, kondisi mobil yang saya kendarai tidak begitu baik. Kemudian ada 2 orang anak pengganjal mobil ynag menawarkan jasanya. Tak tega. Amat sangat tak tega melihat tubuh mungil mereka harus menggantung di mobil. Ibu saya bertanya tentang keseharian mereka. Mereka menceritakan segalanya.
Pagi hari mereka berangkat sekolah seperti biasa. Kemudian setelahnya, mereka langsung bekerja sebagai pembawa pengganjal mobil. Waktu yang seharusnya dipakai untuk bermain dan belajar untuk anak seusia mereka, malah harus dipakai untuk bekerja. Mereka bahkan harus bekerja sampai larut malam, demi mencukupi kebutuhan keluarga mereka, demi meringankan beban orang tua mereka. Meski uang yan mereka dapat hanya sekitar 30.000 sehari. Sebandingkah jumlah uang yang mereka dapat dengan kerja keras mereka?
Aku merasa bersalah atas sikapku yang kadang-kadang menghambur-hamburkan uang. Aku merasa bersalah karena  aku jarang bersyukur atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepadaku. Seharusnya aku tidak melihat ke atas, namun membuka mata terhadap orang-orang sekitar  yang kondisinya lebih miris dibanding saya.

                Terimakasihtelah membuatku mengerti rasa syukur adik-adik kecilku,au selalu berdoa yang terbaik untuk kalian…….

0 komentar:

Poskan Komentar